<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Inspirasi Motivasi Islam Pencerahan Hati Hikmah Pelatihan Bisnis Peluang Usaha Islamic Indonesia</title>
	<atom:link href="http://buyanur.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://buyanur.com</link>
	<description>Inspirasi Motivasi Islam Pencerahan Hati Hikmah Bisnis Pelatihan  Peluang Usaha Islamic Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 20 Feb 2012 16:55:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Terlihat Benar Tapi Belum Tentu Benar</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/12/27/peluang-usaha-terlihat-benar-tapi-belum-tentu-benar/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/12/27/peluang-usaha-terlihat-benar-tapi-belum-tentu-benar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Dec 2011 02:43:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=3018</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Catatan Kepala: ”Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar&#8221;.
Sudah cukup sering kita berhadapan dengan orang-orang yang menganggap dirinya benar. Melakukan hal-hal yang benar. Dan memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Anehnya, kebenaran yang diperjuangkan itu berbenturan dengan norma atau kaidah yang berlaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Catatan Kepala</strong></em>: <em>”Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar&#8221;</em>.</p>
<p>Sudah cukup sering kita berhadapan dengan orang-orang yang menganggap dirinya benar. Melakukan hal-hal yang benar. Dan memperjuangkan sesuatu yang diyakininya benar. Anehnya, kebenaran yang diperjuangkan itu berbenturan dengan norma atau kaidah yang berlaku dalam lingkup yang lebih besar. Orang-orang semacam itu tidak hanya bisa kita temui di jalan. Juga di lingkungan tempat kita tinggal. Maupun di kantor tempat kita bekerja. Orang-orang itu tidak berada jauh. Banyak yang dekat dengan kita. Ada yang sangat dekat dengan kita.</p>
<p><a name="more"></a>Bahkan ada yang sedemikian dekatnya sehingga jantungnya adalah jantung kita juga. Ehm, kalau begitu; orang itu adalah diri kita sendiri dong ya. Kita yang sering merasa telah berada di jalan yang benar, seolah hal lain di luar kita adalah salah.</p>
<p>Saya punya janji rapat presentasi program pelatihan saya dihadapan management sebuah group perusahaan. Berbekal alamat lengkap lokasi meeting, maka saya pun meluncur ke lokasi. Karena kurang faham wilayah itu, saya sesekali berhenti untuk menanyakan arah. Sesuai petunjuk orang yang ditanya, saya pun belok kanan. Alhamdulillah, nama jalannya sudah pas seperti seharusnya. Tinggal mencari menara perkantoran itu, sampailah. Namun, saya tidak kunjung menemukan menara itu, hingga nama jalan yang dilalui berubah. Saya putar arah, sampai diujung perempatan lagi. Menara itu tetap tidak ada. Apa pasal? Rupanya, jalan di seberang perampatan itu juga masih sambungannya. Seharusnya tadi saya belok kiri, karena menara itu ternyata berada di sebelah sana. Kejadian ini memberi saya pelajaran berharga, bahwa; “Sekalipun sudah berada dijalan yang benar, namun jika cara melintasi jalan itu tidak benar, maka kita belum menjadi orang yang benar.” Ini bukan sekedar soal mencari alamat tertentu, melainkan isyarat Ilahi tentang cara menelusuri sepanjang perjalanan hidup kita. Bagi Anda yang tertarik menemani saya belajar memahami isyarat itu dalam menjalani hidup, saya ajak memulainya dengan memahami 5 sudut pandang berikut ini:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>1.      <strong>Berhenti merasa benar sendiri.</strong> Misalkan saja Anda sedang berada di jalan Jenderal Sudirman. Saat menelepon teman Anda, dia mengaku jika dia pun sedang berada di jalan yang sama. Apa yang selanjutnya Anda lakukan? Anda mengatakan bahwa dia berdusta? Tidak. Mungkin malah Anda akan bertanya; “Elu ada disebelah mana? O, gitu. Ya udah elu jangan kemana-mana. Gue langsung meluncur kesana.” Kan begitu. Mudah bagi kita untuk memahami hal itu. Yang sulit adalah ketika kita merasa semua kebenaran ini milik kita seluruhnya sedangkan semua orang lain salah. Karena sama-sama ngotot, maka kita saling mempertentangkan kebenaran masing masing. Padahal, boleh jadi sebenarnya kita berada pada ‘rute jalan’ yang sama, namun  kita berada pada ‘spot’ yang berbeda. Jika Anda bisa mengatakan ‘ya udah elu tunggu aja, sebentar lagi gua kesana’ di Jalan Jenderal Sudirman itu, kenapa sih kita tidak bisa mengatakan;’Elu bener. Gue pun akan punya keyakinan serupa itu jika menggunakan sudut pandang nyang entu…” Itu loh yang sering kita sebut sebagai empati itu. Kita memahami latar belakang dan sudut pandanganya, sehingga bisa memahami pendapatnya. Dan sikap serupa itu, hanya bisa kita miliki jika kita berhenti untuk merasa benar sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>2.      <strong>Jalan itu bukan lokasi.</strong> Kalau kita sudah berada di sebuah jalan, hal itu tidak berarti kita telah melintasi semua bagian dari jalan itu, begitulah faktanya. Saya sudah berada dijalan itu. Tapi saya tidak bisa menemukan lokasi rapat itu. Faktanya, jalan adalah lorong untuk mengantarkan kita ke lokasi yang kita tuju. Masalahnya, jika jalan hidup kita, jalan pikiran kita, jalan keyakinan kita sudah benar kita sering merasa jika kita sudah berada di ‘lokasi’ yang benar. Makanya, kebenaran sering kita amalkan secara membabi buta. Kita merasa berhak menindas orang lain atas nama kebenaran. Kita boleh memaki bawahan atas nama kebenaran. Kita boleh menghujat atasan dan pemimpin atas nama kebenaran. Dan kita, boleh ‘melakukan apapun juga’ selama kita berpijak diatas sendi-sendi kebenaran. Tidak bung. Anda baru sampai di Jalan tempat kebenaran itu ada. Namun Anda, belum sampai di lokasi kebenaran itu sendiri. Tak heran jika banyak atasan yang semena-mena. Banyak bawahan yang suka membangkang. Banyak teman yang berani melakukan apa saja demi memenangkan persaingan. Karena mereka lupa; bahwa yang mereka perjuangkan itu bukanlah sebuah kebenaran. Melainkan sebuah perjalanan yang belum selesai ditempuhnya. Maka tempuhlah perjalanan menuju kebenaran itu terlebih dahulu. Pastikan Anda sampai di lokasi kebenaran itu berada. Izinkan semua orang dari berbagai penjuru bumi menggunakan bermacam alat transportasi, dan menempuh jalur-jalur yang berbeda bisa tiba ditempat yang sama. Setelah berada disana; kita baru akan menyadari jika ternyata; kita berbeda ini memiliki tujuan dan kebenaran yang sama. Oh, ternyata jalan itu, bukanlah lokasi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>3.      <strong>Tidak ada jawaban yang salah. </strong>Saya salah berbelok. Harusnya ke kiri, bukan ke kanan. Tapi, itu saya lakukan karena seseorang memberitahukan untuk belok kanan. Lho, kok kesalahan saya malah ditimpakan kepada orang lain yang sudah berusaha untuk memberi bantuan. Saya bertanya ‘jalan ini ada dimana?’. Dia bilang, ‘diperempatan itu, Bapak belok kanan.” Dia benar. Bahkan sekalipun orang itu menjawab salah, bukan salah dia. Yang salah adalah saya yang bertanya kepada orang yang tidak mengetahui jawabannya. Kita? Oooh, sering sekali menimpakan nasib sial, kesulitan, kegagalan, kekecewaan dan semua perasaan yang tidak menyenangkan sebagai ulah yang diakibatkan oleh orang lain. Saya melakukan ini karena istri saya tidak merawat diri. Saya melakukan itu karena suami saya tidak perhatian lagi. Karir gue mandek gara-gara teman gue suka menjilat atasan. Saya malas kerja karena suasana di kantor kurang kondusif. Saya sering telat karena teman dan boss saya juga begitu gak diapa-apain. Lha, kok semua keburukan, kesialan, dan kelemahan kita malah ditimpakan penyebabnya kepada orang lain. ‘Lantas, elo mau aja menyerahkan nasib kepada orang lain?’ Begitu saya mendengar  teguran keras dari dalam diri saya. Jikapun orang lain telah menyebabkan kita menderita; belum tentu karena mereka sengaja. Mungkin karena mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk membantu kita dengan lebih baik. Maka ketika kita mendapatkan jawaban atau bantuan dan perlakuan apapun dari orang lain, bukan salah mereka jika kita menerimanya. Kitalah yang mesti belajar untuk memilahnya; dan menjaga diri dari dampak buruknya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>4.      <strong>Tidak semua pengguna jalan tertib aturan.</strong>  Orang tidak sengaja menyulitkan kita? Iya. Tapi, kadang kita bisa kecipratan dampak buruk dari perilaku kotor orang lain. Sama seperti pengendara di jalan-jalan yang kita lalui. Ada saja tingkah polah pengendara lain yang menyusahkan kita. Angkot yang berhenti sembarangan. Motor yang ngecot kiri-ngecot kanan. Bis kota yang ngetem di tikungan. Bahkan, ada juga mobil pribadi yang menggunakan sirene polisi hanya untuk menakut-nakuti. Sama seperti hidup kita. Meskipun kita sudah berada di jalan yang lurus, namun banyak juga orang yang melintasinya secara ugal-ugalan. Mereka kelihatan percaya diri dengan kengawurannya. Mereka baru meringis nangis kalau pelipisnya sudah teriris oleh kerikil dari aspal yang terkikis. Sekitar tahun 1998, saya bahkan pernah menjadi korban tabrak lari. Seperti itulah kira-kira fakta hidup kita. Jangan pernah pergi melintasi jalan manapun jika tidak ingin bertemu dengan para pengendara ceroboh dan arogan seperti itu. Jangan pergi ke kantor jika tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang suka menimpakan kesalahan kepada orang lain. Jangan bekerja jika tidak mau dibentak. Jangan keluar rumah jika tidak ingin berpapasan dengan tetangga judes. Jangan keluar kamar jika ogah melihat wajah marah orang serumah. Jangan hidup jika tidak mau menghadapi konsekuensi-konsekuensi lumrah sebagai mana layaknya. Tidak semua pengguna jalan tertib aturan. Begitulah faktanya. Maka mari kita hadapi kenyataan itu. Dan mari kita lintasi semua jalan dan jalur kehidupan yang semertinya kita tempuh. Meski berhadapan dengan resiko serupa itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>5.      <strong>Jalan yang tidak pernah menyesatkan. </strong>Ada banyak jalan menuju ke Roma, katanya. Itu benar. Tetapi tidak berarti bahwa semua jalan bisa membawa kita ke Roma. Semua orang boleh memilih jalan hidupnya masing-masing, katanya. Itu benar. Tetapi, tidak berarti bahwa seseorang boleh bertindak semau udele dhewek. Kenyataannya ada jalan buntu. Bahkan jalan yang menyesatkan. Kewarasan kita patut dipertanyakan jika sudah tahu itu buntu tapi masih maksa menembusnya juga. Sudah tahu itu sesat, eh ngotot saja hanya karena merasa nikmat. Makanya, meski kita boleh memilih jalan hidup; kita perlu memilih jalan hidup yang tidak pernah menyesatkan. Adakah jalan seperti itu? Ada. Yaitu, jalan yang dibentangkan berdasarkan petunjuk dan bimbingan Tuhan. Untuk menemukan jalan itu, tidak cukup sekedar bertanya kepada pemuka agama. Pertama, mereka juga manusia yang bisa salah seperti kita. Kedua, pemuka agama tidak memiliki kemampuan untuk memaksa kita mengikuti kata-katanya. Ketiga, hanya diri kita yang bisa membuka pintu hati agar isyarat dan cahaya Ilahi bisa memasuki relung terdalamnya. Kita akan bisa menemukan jalan Ilahi itu hanya jika terus mencari, menerima, menyadari, mempersiapkan dan memahami tanda-tandanya. Dan salah satu tanda itu adalah; ketika kita ikhlas menjalani peran yang sehari-hari kita mainkan. Tanpa keikhlasan itu, jelas sekali jika kita tidak sedang melangkah dalam jalan yang tidak pernah menyesatkan itu</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah sekian puluh tahun perjalanan hidup kita, sudahkah kita menemukan jalan hidup yang benar-benar tepat untuk kita lalui? Jika kita pernah salah jalan, tak usah terlampau gusar. Segeralah memutar arah, lalu ikutilah jalur yang seharusnya. Setelah berada di jalan yang kita kira benar pun, teruslah memeriksa apakah kita berada di lajur yang benar? Boleh jadi, jalan kita sudah benar, namun kita berada di lajur yang salah, atau menuju kearah yang salah,  dan mengikuti rambu yang salah.  Mengapa? Karena sesuatu yang terlihat benar itu, belum tentu benar. Hanya ada satu kebenaran mutlak. Yaitu kebenaran yang datangnya dari Tuhan. Mengapa kebenaran dari Tuhan sifatnya mutlak? Karena Tuhan itu hanya satu, sehingga kebenaran yang ditentukanNya tidak ada yang bisa mempertanyakan. Mempertentangkan. Atau memberi tandingan. Dalam jalan  kebenaran yang dilandasi petunjuk Ilahi itu; yuk, kita sama-sama melangkah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<div><em><strong>Catatan Kaki</strong>:</em></div>
<div><em>Isyarat kebenaran Ilahi hanya bisa ditangkap oleh pribadi yang menyediakan jiwa dan raganya untuk selalu bersih dalam menjalani hidupnya.</em></div>
<p>&nbsp;</p>
<div>penulis: Dadang Kadarusman</div>
<div>dikutip dari: www.cak-soetam.com</div>
<div id="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://buyanur.com/2011/04/26/tidak-perlu-dari-nol-inspirasi-islam-indonesia/" rel="bookmark" class="crp_title">TIDAK PERLU DARI NOL</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2010/05/08/jalur-taat-menuju-ridha-allah-2/" rel="bookmark" class="crp_title">JALUR TAAT MENUJU RIDHA ALLAH</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2010/05/07/lakukan-kesalahan/" rel="bookmark" class="crp_title">LAKUKAN KESALAHAN</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2010/05/14/%e2%80%9cruang-boleh-salah%e2%80%9d/" rel="bookmark" class="crp_title">“RUANG BOLEH SALAH”</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2010/09/19/tunjukilah-kami-jalan-yang-lurus-ya-allah%e2%80%a6/" rel="bookmark" class="crp_title">TUNJUKILAH KAMI JALAN YANG LURUS, YA ALLAH…</a></li></ul></div><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fbuyanur.com%2F2011%2F12%2F27%2Fpeluang-usaha-terlihat-benar-tapi-belum-tentu-benar%2F&amp;title=Terlihat%20Benar%20Tapi%20Belum%20Tentu%20Benar" id="wpa2a_2"><img src="http://buyanur.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/12/27/peluang-usaha-terlihat-benar-tapi-belum-tentu-benar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggendong Monyet</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/12/11/business-coaching-menggendong-monyet-training-bisnis/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/12/11/business-coaching-menggendong-monyet-training-bisnis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Dec 2011 00:28:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi & Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=2983</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa ada manajer yang seperti kehabisan waktu, sementara staf-stafnya justru kehabisan pekerjaan? Mengapa ada manajer yang tampak seperti kewalahan, sering lembur serta bekerja keras tapi tidak pernah sempat menyelesaikan segala pekerjaannya? Apa itu manajemen monyet? Bagaimana caranya agar tidak mengambil ‘beban/tanggung jawab’ (menggendong monyet) orang lain sehingga yang bersangkutan bisa mengurus dan memberi makan ‘monyet-monyet’ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa ada manajer yang seperti kehabisan waktu, sementara staf-stafnya justru kehabisan pekerjaan? Mengapa ada manajer yang tampak seperti kewalahan, sering lembur serta bekerja keras tapi tidak pernah sempat menyelesaikan segala pekerjaannya? Apa itu manajemen monyet? Bagaimana caranya agar tidak mengambil ‘beban/tanggung jawab’ (menggendong monyet) orang lain sehingga yang bersangkutan bisa mengurus dan memberi makan ‘monyet-monyet’ mereka sendiri?</p>
<p><strong>Manajemen waktu</strong></p>
<p>Bill Oncken di “<strong>Harvard Business Review</strong> “ [1974] menulis sebuah artikel klasik yang sangat menarik dengan judul “<em>Mengelola Manajemen Waktu: Monyet Siapa</em> <em>ini?</em>” Dalam artikel tersebut Oncken menjabarkan bahwa ada tiga jenis manajemen waktu, yakni:</p>
<ol>
<li>Waktu yang dipaksakan bos – digunakan untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitas yang bos inginkan dan si manajer tidak bisa mengacuhkan tanpa  beresiko mendapatkan hukuman (langsung atau tidak).</li>
<li>Waktu yang dipaksakan sistem – digunakan untuk mengerjakan tuntutan-tuntutan administratif dan pekerjaan dari rekan kerja. Mengacuhkan permintaan ini bisa beresiko mendapatkan hukuman/penalti (langsung atau tidak).</li>
<li>Waktu yang dipaksakan sendiri – digunakan untuk mengerjakan hal-hal yang kita putuskan sendiri. Di sini tidak ada penalti.</li>
</ol>
<p><strong>Dimana monyetnya?</strong></p>
<p>Suatu ketika, misalnya, Anda sedang tergesa-gesa berjalan di lorong kantor ketika  salah seorang staf Anda mendekati dan menyapa, “Selamat pagi Pak. Boleh saya bicara sebentar? Kita ada masalah nih, Pak”. Karena Anda  perlu mengetahui masalah subordinate Anda, maka Anda pun berhenti dan  mendengarkan staf Anda menjelaskan masalahnya secara rinci. Anda terjebak di tengah-tengahnya. Karena pemecahan masalah itu memang bidang Anda, tak terasa waktu pun berlalu. Ketika akhirnya Anda melirik jam tangan, obrolan yang tampaknya hanya tiga menit itu ternyata sudah memakan waktu tiga puluh menit.</p>
<p>Karena hanya sekilas, Anda memutuskan yang penting  tahu dulu masalahnya meski belum cukup tahu untuk mengambil keputusannya. Maka Anda pun mengatakan, “Ini masalah penting, tetapi saya belum ada waktu membahasnya. Biar saya pikirkan dulu, nanti saya beri kabar.” Anda pun berpisah. Diskusi tersebut membuat Anda terlambat sampai ke tempat tujuan.</p>
<p><strong>Monyet pertama</strong></p>
<p>Sebelum Anda berjumpa di lorong itu, sesungguhnya monyetnya ada di punggung staf Anda. Ketika Anda berdua membicarakannya, masalahnya menjadi pertimbangan bersama, maka monyet pun memijak punggung Anda berdua. Namun saat Anda mengatakan, “Biar saya pikirkan dulu; nanti saya beri kabar,” beban di punggung Anda menjadi berlipat sementara staf Anda pergi dengan beban dua puluh kilogram lebih ringan. Kenapa begitu? Sebab monyetnya sudah sepenuhnya pindah ke punggung Anda.”</p>
<p>Mari kita berandai-andai. Taruh kata masalah yang dipertimbangkan itu adalah bagian dari tugas staf Anda tadi dan, taruh kata lagi,  sesungguhnya ia mampu betul memberikan usulan-usulan solusi bagi masalah yang dibicarakannya itu. Maka, ketika Anda  membiarkan monyetnya pindah ke punggung Anda, itu sama saja dengan Anda secara sukarela mengerjakan dua hal yang semestinya dikerjakan oleh staf Anda tadi, yakni:</p>
<ol>
<li>Menerima tanggung jawab atas masalah milik staf Anda, dan</li>
<li>Menjanjikan laporan perkembangan kepada staf tersebut</li>
</ol>
<p>Rumusannya, “<em>Untuk setiap monyet, selalu ada dua pihak yang terlibat: Yang menyelesaikan dan yang</em> <em>mengawasinya</em>.”</p>
<p>Dalam kasus di atas, tampak bahwa Anda yang berperan sebagai bawahan, sementara bawahan Anda justru berperan sebagai pengawas. Keesokan harinya staf tersebut  datang beberapa kali ke ruangan Anda dan mengatakan, “Apa kabar Pak? Bagaimana hasilnya?” Kalau Anda belum memecahkan persoalannya secara memuaskan baginya, bisa-bisa ia akan menekan Anda untuk mengerjakan apa yang sesungguhnya adalah pekerjaannya, dan bukan pekerjaan Anda.</p>
<p><strong>Monyet kedua</strong></p>
<p>Anda menerima memo dari Boni, salah seorang staf Anda, yang intinya berbunyi, “Pak, kita kurang didukung oleh bagian Gudang dalam proyek X. Bisakah Bapak bicara dengan manajer mereka?” Dan, tentunya Anda mengiyakan. Semenjak itu Boni sudah dua kali menindak-lanjuti persoalannya dengan pertanyaan, “Bagaimana soal proyek X nya Pak? Bapak sudah bicara belum dengan bagian Gudang? Dua kali pula Anda dengan rasa bersalah menjawab, “Belum sih, tetapi jangan kuatir, pasti saya bicarakan”.</p>
<p><strong>Monyet ketiga</strong></p>
<p>Kali ini datang dari Mimi. Dengan cerdik ia menyanjung Anda terlebih dulu sebelum akhirnya meminta tolong, sebab Anda punya  pengetahuan yang mendalam tentang organisasi dan keunikan teknis dari masalah yang dihadapinya ketimbang dirinya.</p>
<p><strong>Monyet keempat</strong></p>
<p>Satu lagi monyet yang Anda janjikan adalah membuat uraian tugas buat Santi. Ia staf yang baru dipindahkan dari departemen lain untuk mengisi posisi yang baru saja diciptakan dalam departemen Anda. Anda belum sempat menentukan secara spesifik apa saja tugas jabatan baru itu. Jadi, ketika ia bertanya apa yang diharapkan darinya, Anda berjanji untuk menuliskan uraian tugas untuk mengklarifikasikan tanggung-jawabnya.</p>
<p><strong>Monyet kelima</strong></p>
<p>Putera Anda pulang dari sekolah dan berkata, ”Ayah! Ibu! Aku diterima jadi anggota tim basket yunior!”</p>
<p>Anda menyahut, “Woww…keren..! Ayah dan Ibu bangga, nak!” Lalu ia berkata, “Tapi Ayah…Ibu…aku mau diantar-jemput ke tempat latihan  setiap hari Selasa, Kamis, dan Jumat sepulang sekolah.” Nah, satu monyet dilemparkan lagi. Lalu siapakah yang akan mendapatkan monyet itu? Sudah pasti Anda dan isteri Anda. Yang mulanya kabar gembira sekarang menjadi monyet, bukan?</p>
<p>Akan lebih parah lagi jika monyetnya segera beranak pinak! Isteri Anda berkata pada putera Anda, “Ibu bisa mengantarmu Selasa dan sekali-sekali Jumat, tetapi Kamis benar-benar tidak mungkin. Siapa lagi teman satu timmu? Mungkin Ibu bisa mengatur antar-jemput bersama.”</p>
<p>Setelah putera Anda menceritakan siapa saja teman satu timnya, isteri Anda  mengatakan, “Akan segera Ibu atur, sayang. Nanti Ibu beritahu siapa yang akan mengantar-jemputmu.” Tanpa perduli samasekali, putera Anda pun lari ke arah  TV dengan gembiranya, “Terima kasih Bu. <em>I love you!”.</em></p>
<p>Pastilah putera Anda terlalu kecil untuk bisa mengemudi, tetapi tentunya ia bisa mengupayakan alternatif lain untuk transportasinya dan dalam prosesnya ia belajar memikul tanggung jawab.</p>
<p>Lihatlah, betapa mudahnya Anda mengambil monyet-monyet orang lain dalam segala bidang kehidupan, padahal mestinya itu tidak perlu. Lalu, dalam prosesnya, Anda  telantarkan monyet Anda  sendiri dan membuat orang lain tergantung kepada Anda serta mencampakkan peluang mereka untuk belajar memecahkan masalah mereka sendiri.</p>
<p>Datanglah monyet keenam, ketujuh, kedelapan….. dari keponakan, sepupu, mertua, ipar, tetangga, adik, aa’, teteh…..dst</p>
<p><strong>Di mana-mana monyet</strong></p>
<p>Di sekeliling Anda monyet, monyet dan monyet! Anda bahkan kini mendapatkan beberapa <em>“monyet-monyet lemparan!”</em> Monyet-monyet ini diantaranya dibuat oleh Tenny, yang gaya kerja serta kepribadiannya kadang menimbulkan masalah bagi orang-orang di bagian lain organisasi Anda. Maka yang lain pun membawakan masalahnya kepada Anda, yang pasti Anda jawab dengan: “Biar saya pelajari; nanti saya kabari.”</p>
<p>Kini Anda dapat melihat jelas, diantara monyet-monyet yang berkecamuk di benak Anda itu, kebanyakan justru monyet milik staf Anda. Artinya, staf Andalah yang seharusnya menangani dan bukan Anda. Meskipun demikian, ada juga monyet kepunyaan Anda  sendiri, yaitu, bagian dari uraian tugas Anda. Yang pasti, kebanyakan monyet-monyet di kantor Anda itu bukan seluruhnya monyet Anda.</p>
<p>Tidak lama kemudian beban Andapun sudah penuh (oleh tugas dari bos Anda maupun orang lain), tetapi monyetnya terus saja berdatangan.</p>
<p>Tak ayal lagi, maka Anda pun mulai ‘meminjam’ waktu milik kehidupan pribadi Anda: berolah raga, hobi, kegiatan warga, ibadah, dan tentu saja nantinya dari keluarga Anda.</p>
<p>Ujung-ujungnya Anda sampai pada titik di mana tidak lagi tersedia waktu. Tetapi monyet-monyetnya terus saja berdatangan. Ketika itulah Anda mulai menunda-nunda, sementara staf Anda menunggu. Anda sama-sama tidak melakukan apa-apa terhadap monyet-monyet itu, suatu duplikasi upaya yang sangat mahal.</p>
<p>Penunda-nundaan Anda itu membuat Anda menjadi penghambat bagi staf Anda. Mereka lumpuh karena Anda dan menjadi penghambat bagi orang-orang di departemen lainnya. Ketika orang-orang departemen lain ini komplain, Anda berjanji untuk mempelajari masalahnya dan memberi mereka kabar. Waktu yang Anda habiskan untuk mengurus “<em>monyet-monyet dari samping</em>” ini semakin mengurangi waktu untuk menangani monyet-monyet staf Anda sendiri. Lalu tiba-tiba bos Anda mendapat kabar ada masalah di departemen Anda. Ia menuntut lebih banyak laporan dari Anda. Kini bukan hanya “<em>monyet-monyet dari samping</em>” saja yang Anda dapatkan, tapi juga “<em>monyet-monyet dari atas</em>” dan ini harus didahulukan dari yang lain. Waktu yang Anda habiskan untuk itu semakin mengurangi waktu untuk yang lainnya. Sungguh sangat kusut. Mengingat-ingat semua kekacauan itu, Anda sadar bahwa Anda sendirilah penyebab hambatan organisasi Anda; sungguh luar biasa masalah yang Anda timbulkan.</p>
<p>Tentu, masalah yang lebih besar adalah ‘hilangnya peluang’; menghabiskan seluruh waktu Anda menangani monyet-monyet orang lain sementarai monyet-monyet Anda sendiri tidak tertangani. Sebagai manager, Anda sekarang bukannya <em>me-manage</em>, Anda malah <em>di-manage</em>.</p>
<p>“<em>Monyet-monyet dari atas</em>” adalah waktu yang dipaksakan oleh bos, seperti poin 1 dari manajemen waktu yang Bill Oncken uraikan di awal tulisan ini. “<em>Monyet-monyet dari samping</em>” adalah waktu yang dipaksakan sistem seperti poin 2 dan “<em>Monyet-monyet yang Anda sendiri</em>” dan “<em>Monyet-monyet</em> <em>yang dengan suka rela Anda ambil dari keluarga, kerabat, sahabat dan tetangga”</em> adalah waktu yang dipaksakan sendiri seperti nomor 3.</p>
<p align="center">***</p>
<p><strong>Menangani monyet-monyet</strong></p>
<p>Oncken memberi kesimpulan sederhana untuk menangani monyet yakni:</p>
<p>“<em>Kapan saja saya membantu Anda, maka sesungguhnya masalah Anda kini menjadi masalah saya. Begitu masalah itu menjadi milik saya, maka Anda tidak lagi punya masalah. Saya tidak bisa membantu seseorang yang tidak punya masalah. Anda boleh meminta bantuan lewat skedul waktu yang kita tentukan, dan kita putuskan bersama apa langkah selanjutnya dan siapa yang akan melakukannya</em>”</p>
<p>Untuk para manajer, inilah enam hal yang harus Anda pertimbangkan, yaitu:</p>
<ol start="1">
<ol start="1">
<li><em>Monyet sebaiknya disuapi atau ditembaki.</em> Tak seorangpun senang menerima dampak dari monyet-monyet yang lapar. Monyet mesti disuapi secara berkala. Dalam metafora ini, masalah harus dibicarakan secara berkala antara manajer dan staf yang punya masalah. Kalau monyetnya bisa ditembak (masalah diselesaikan secepat mungkin), tentu saja tidak diperlukan waktu lagi untuk menyuapinya.</li>
</ol>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="1">
<ol start="2">
<li><em>Setiap monyet seharusnya punya jadwal waktu untuk suapan selanjutnya</em>. Setelah sebuah sesi penyuapan, si manajer seyogyanya memilih waktu yang tepat untuk penyuapan selanjutnya dan punya daftar langkah-langkah yang harus diambil oleh stafnya. “Bisa kita ketemu Selasa depan jam 11.00 untuk menindaklanjuti hal ini dan membahas apa yang harus kita lakukan selanjutnya?</li>
</ol>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="1">
<ol start="3">
<li><em>Populasi monyet seharusnya dipertahankan di bawah jumlah waktu maksimum yang dipunyai si manajer</em>. Untuk menyuapi seekor monyet, idealnya memerlukan waktu kurang lebih 15 menit dan si manajer harus mempertahankan jadwal waktu yang memungkinkan untuk dikelolanya dengan baik.</li>
</ol>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="1">
<ol start="4">
<li><em>Monyet-monyet sebaiknya disuapi pada waktu yang telah ditentukan</em>. Membiarkan staf membawa masalah-masalahnya sesuai dengan waktu mereka sendiri, meningkatakan kemungkinan monyet-monyet tersebut berpindah dari pundak staf ke pundak manajer. Dengan menentukan waktu terinci untuk menyelesaikan masalah, si manajer mendorong stafnya untuk mengambil keputusan terhadap masalah tersebut dan   memberinya umpan balik.</li>
</ol>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="1">
<ol start="5">
<li><em>Skedul penyuapan monyet bisa diskedul ulang, tapi jangan pernah benar-benar ditunda</em>. Baik si manajer maupun staf boleh saja melakukan skedul ulang untuk menyuapi monyet, namun tetap harus diskedulkan ke waktu yang spesifik untuk menghindari hilangnya jejak masalah tersebut.</li>
</ol>
</ol>
<p>&nbsp;</p>
<ol start="1">
<ol start="6">
<li><em>Monyet-monyet sebaiknya disuapi secara tatap muka atau lewat telpon, namun tidak lewat tulisan (surat/sms/email, dll)</em>. Penyuapan yang dilakukan lewat tatap muka atau telpon bermanfaat untuk memastikan si monyet tetap menjadi masalah staf tersebut, kecuali jika manajer memandang perlu untuk mengambil alih masalahnya.</li>
</ol>
</ol>
<p>Ringkasnya, keterampilan mendelegasikan membantu manajer menyelesaikan masalah dengan lebih baik dan sekaligus mengembangkan keterampilan pemecahan masalah untuk staf-stafnya.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Sekedar pengingat, bila Anda sedang tenggelam dalam lautan pekerjaan yang mengacaukan manajemen waktu Anda, ingatlah tiga huruf ini: RHW.</p>
<p>Pertama, kita mulai dengan huruf <strong>H</strong> (HAPUSKAN). Kalau bisa di coret dari daftar Anda, hapus pekerjaan itu (tembaki monyet Anda).</p>
<p>Kedua, huruf <strong>W</strong> (WAKILKAN). Kalau Anda bisa mewakilkan/mendelegasikan pekerjaan Anda, lakukanlah, sepanjang diberikan pada orang yang tepat.</p>
<p>Dan, terakhir, <strong>R</strong> (REKAYASAKAN). Artinya, jadwalkan sedemikian rupa sehingga pekerjaan Anda menjadi lebih sederhana dan terukur. NLP menyebutnya sebagai <em>chunking down</em> (memecah-mecah menjadi lebih terkelola).</p>
<p>Kalau Anda sudah membaca Bakul Pertama dari serial Beras Kencur ini, tentu masih ingat metafora berikut: Bagaimana cara Anda menyantap seekor gajah? Tentu saja dengan mengunyahnya sepotong demi sepotong, bukan?</p>
<p><strong>Sumber:  </strong><br />
www.indonlp.com</p>
<p>BUKU:  <span style="font-size: large;"><a title="Buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="http://buyanur.com/2011/11/17/buku-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah/" target="_blank"><strong>1/2 Karyawan 1/2 Bos</strong></a>  <span style="font-size: small;">&lt;&#8211; klik disamping panah</span><a title="Permanent Link to Buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos – 33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja" href="../2011/11/17/buku-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah/" rel="bookmark"><br />
</a></span></p>
<p><strong>33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan</strong></p>
<p><em>Petuah dari kiai saya di gontor, ‘jangan puas jadi pegawai, tapi jadilah yang punya pegawai.’ Buku dari saudara noval ini adalah salah satu cara mengamalkan petuah kiai saya tadi. Bacalah dan punyalah pegawai’ – <strong>ahmad fuadi, penulis trilogi negeri5menara, </strong><a href="http://www.negeri5menara.com/" target="_blank"><strong>www.negeri5menara.com</strong></a></em></p>
<p><a title="Tentang Noval Y. Ramsis" href="http://www.novalramsis.com/about/" target="_blank"><span style="font-size: x-large;"><strong>NovalRamsis dot com</strong></span></a>  &lt;&#8211; klik disamping panah</p>
<p><strong><strong>Consultancy &amp;</strong> Training</strong></p>
<p><a title="Business Optimizing" href="http://www.novalramsis.com/mengapa-seo-penting-bagi-kesuksesan-usaha-anda/" target="_blank">business optimizing</a>  <a title="Personal Coaching" href="http://www.novalramsis.com/personal-coaching-peluang-bisnis-usaha/" target="_blank">life coaching</a>  <a title="Personal Coaching" href="http://www.novalramsis.com/personal-coaching-peluang-bisnis-usaha/" target="_blank">business coaching</a>  <a title="Self Development Training" href="../2011/03/26/pelatihan-bisnis-peluang-usaha-oye-optimizing-your-energy/" target="_blank">self development training</a>  <a title="Leadership Training" href="../2011/10/28/konsultan-bisnispersonal-leadership-training/" target="_blank">leadership training</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://buyanur.com/2010/11/22/inspirasi-islam-5-kualitas-hebat-yang-mensukseskan/" rel="bookmark" class="crp_title">5 KUALITAS HEBAT YANG MENSUKSESKAN</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/01/18/pelatihan-peluang-usaha-memulai-bisnis/" rel="bookmark" class="crp_title">MEMULAI USAHA &#038; BISNIS</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/01/25/belajar-dari-kesalahan-inspirasi-islamic/" rel="bookmark" class="crp_title">BELAJAR DARI KESALAHAN</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/11/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/" rel="bookmark" class="crp_title">Takut Gagal? No Way&#8230;</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2010/06/13/inspirasi-zona-layak/" rel="bookmark" class="crp_title">ZONA LAYAK</a></li></ul></div><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fbuyanur.com%2F2011%2F12%2F11%2Fbusiness-coaching-menggendong-monyet-training-bisnis%2F&amp;title=Menggendong%20Monyet" id="wpa2a_4"><img src="http://buyanur.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/12/11/business-coaching-menggendong-monyet-training-bisnis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Shaumul Biidh’</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/12/08/shaumul-biidh/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/12/08/shaumul-biidh/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 05:53:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adibustaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[flashnews]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=1516</guid>
		<description><![CDATA[No related posts found]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[No related posts found]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/12/08/shaumul-biidh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Selamat Tahun Baru</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/12/08/selamat-hari-iedul-fitri-1431h/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/12/08/selamat-hari-iedul-fitri-1431h/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 05:50:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adibustaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[flashnews]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=1509</guid>
		<description><![CDATA[Artikel Terkait:SELAMAT DATANG PERUBAHANHIDUP ITU SINGKATINGIN MASA DEPAN SI KECIL CEMERLANG? BIASAKAN MEMBACA(01) NEW YEAR IN A MUSHOLLAKata-kata Hikmah 4]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Artikel Terkait:SELAMAT DATANG PERUBAHANHIDUP ITU SINGKATINGIN MASA DEPAN SI KECIL CEMERLANG? BIASAKAN MEMBACA(01) NEW YEAR IN A MUSHOLLAKata-kata Hikmah 4]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/12/08/selamat-hari-iedul-fitri-1431h/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesombongan</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/12/08/pandanglah-ke-bawah/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/12/08/pandanglah-ke-bawah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Dec 2011 05:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>adibustaman</dc:creator>
				<category><![CDATA[flashnews]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=1595</guid>
		<description><![CDATA[Artikel Terkait:Ketika Kesombongan MenjatuhkanGURUKU SEORANG TUKANG BECAK(19) UNENDING CONTEMPLATION]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[Artikel Terkait:Ketika Kesombongan MenjatuhkanGURUKU SEORANG TUKANG BECAK(19) UNENDING CONTEMPLATION]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/12/08/pandanglah-ke-bawah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/11/17/buku-laris-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah-best-seller/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/11/17/buku-laris-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah-best-seller/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Nov 2011 02:03:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dagangan]]></category>
		<category><![CDATA[jurus sukses]]></category>
		<category><![CDATA[peluang bisnis]]></category>
		<category><![CDATA[peluang usaha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=2889</guid>
		<description><![CDATA[1/2 Karyawan 1/2 Bos
33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan
(diedarkan mulai 1 Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)
Penulis: Supardi Lee &#38; Noval Ramsis
harga Rp. 40.000,- per buku.
Bisnis Sampingan kerap dipandang remeh, main- main atau hanya mengusahakannya sekadar hidup. Dikatakan bisnis sampingan karena memang (awalnya) bukan pekerjaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a title="Sinopsis Buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="http://buyanur.com/2011/01/27/kaya-raya-dari-bisnis-sampingan-pelatihan-peluang-usaha/" target="_blank"><span style="font-size: x-large; color: #000080;"><strong>1/2 Karyawan 1/2 Bos</strong></span></a></p>
<p><strong>33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan</strong></p>
<p>(diedarkan mulai 1 Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)</p>
<p><span style="font-size: x-large;"><strong>Penulis: Supardi Lee &amp; <a title="Tentang Noval Y. Ramsis" href="http://www.novalramsis.com/about/" target="_blank">Noval Ramsis</a></strong></span></p>
<p>harga <span style="font-size: large; color: #000080;">Rp. 40.000,-</span> per buku.</p>
<p>Bisnis Sampingan kerap dipandang remeh, main- main atau hanya mengusahakannya sekadar hidup. Dikatakan bisnis sampingan karena memang (awalnya) bukan pekerjaan utama. Inilah letak amannya. Meski bisnis gagal, kita masih mendapatkan pemasukan dari pekerjaan utama. Akibatnya, kita sering &#8220;main-main&#8221; dan kurang gigih mengembangkannya. Disitulah letak kelirunya. Bila ditekuni dengan baik, hasil dari bisnis sampingan sangat mungkin mengalahkan pendapatan dari pekerjaan utama kita. Hebatnya, kita bisa memperoleh dua pemasukan sekaligus.</p>
<p>Lalu, bisnis apa yang cocok bagi kita dan tidak mengganggu waktu kerja di kantor? Bagaimana dengan modalnya? Bagaimana cara mengatur waktu agar bisnis berjalan baik? Mau tahu caranya? Buku ini akan memberi gambaran yang gamblang. Siap-siap menikmati keberlimpahan &#8220;hidup di dua tempat&#8221;, menjadi karyawan bagi perusahaan/instansi tempat kita bekerja dan menjadi bos bagi bisnis kita sendiri.</p>
<h1 id="post-809">½ + ½ = 1 Semangat</h1>
<p>(dikutip dari website <a title="Review buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="http://www.bisnisindeks.com/%C2%BD-%C2%BD-1-semangat/" target="_blank">www.BisnisIndeks.com</a>)</p>
<p>Buku ini memberikan pandangan bahwa berwiraswasta tak hanya cukup dengan keinginan. Namun lebih dari itu seseorang harus segera mengambil keputusan dan mewujudkannya. Berangkat dari kegelisahan yang menggelitik, membuat penulis mencari-cari peluang untuk berdiri di kaki sendiri dengan berbisnis. Pada awalnya memang masih ½ sebagai karyawan dan ½ sebagai bos sebuah bisnis. Namun ketika waktu berlalu dan bisnis semakin berkembang, pilihan jatuh untuk membesarkan bisnis sendiri dan mengandalkan sepenuhnya pada bisnis itu.</p>
<p>Yang menjadi pertanyaan, mampukah saya seperti itu? Jika Anda membaca buku ini pertanyaan tersebut habis terjawab sudah! Buku ini mendorong kita agar fokus dengan pilihan bisnis yang sudah kita ambil. Tentunya harus menyadari situasi dan kondisi lingkungan dimana bisnis kita akan dikembangkan. Meskipun buku ini menuliskan judul ‘½ ‘ tapi tidak pernah ada kata setengah dalam menjalankan bisnis, semuanya harus dilakukan sepenuh hati alias 100%. Jika sudah mengambil satu bisnis jangan beralih ke bisnis lainnya dalam waktu singkat. Buku ini mengingatkan bahwa konsistensi sangatlah penting, jangan tergoda dengan bisnis lainnya yang belum sepenuhnya dapat pula kita kuasai.</p>
<p>Keyakinan dan keteguhan hati adalah kekuatan yang tidak ada taranya. Jika dalam langkah pertama menemukan kegagalan, bukan berarti harus gulung tikar. Namun masih ada langkah berikutnya yang dapat mengantarkan pada kesuksesan karena sudah memiliki pengetahuan dari kegagalan awal. Termasuk pula berbagai ketakutan-ketakutan yang dapat menahan langkah untuk bergerak maju. Buku ini memberikan dorongan untuk mengenyampingkan ketakutan-ketakutan itu.</p>
<p>Kisah Waryono yang tertulis dalam buku ini, membuka gambaran bahwa seorang karyawan yang hanya berpredikat sebagai office boy bisa menghasilkan pemasukan Rp.25 juta dari bisnisnya sendiri. Ia mengawalinya dengan membuka toko kecil hanya dengan modal Rp.500 ribu, yang berhasil ia tingkatkan dengan membuka warung pecel lele pertama lalu yang kedua. Disambung dengan toko tanaman hias, lalu membeli sawah dan traktor. Tentunya mereka membuat berbagai strategi agar bisnisnya bisa berjalan dengan baik. Pertama tetap menjalankan fungsi utamanya dalam kesibukan rutinitas, kemudian mengelola bisnisnya pada waktu-waktu di luar rutinitas utamanya dan memberikan kepercayaan dan tanggung jawab pada orang lain, di samping terus mengawasinya.</p>
<p>Supardi Lee dan Noval Ramsis juga mengingatkan dalam bukunya bahwa perlunya untuk mengekang emosional. Berbisnis bukanlah berspekulasi yang mengarah pada karakter untung-untungan yang sama dengan perjudian. Digambarkan betapa perlunya perencanaan bisnis yang matang untuk terus mendorong bisnis ini terus ke atas. Yang terpenting yang ditangkap dalam buku ini adalah mengelola ‘modal aman emosional’, yakni modal yang dipakai untuk memulai dan menjalankan bisnis yang diambil. Yang digarisbawahi dalam buku ini adalah semangat untuk membangun bisnis sendiri betapapun terasa beratnya. Rugi? Tidak menjadi masalah! Yang menjadi masalah adalah tak mau lagi berbisnis! Padahal masih banyak celah yang dapat kita manfaatkan. Jadi tetaplah fokus dan konsisten.</p>
<p><span style="color: #000080;"><strong><span style="font-size: large;">SEGERA dapatkan di toko buku Gramedia atau di toko buku di kota anda. </span></strong><strong><span style="font-size: large;"><br />
</span></strong></span></p>
<p><span style="color: #000000;">atau</span> <span style="color: #0000ff;"><strong>Pesan buku</strong></span> dengan tambahan biaya <span style="font-size: large; color: #0000ff;">ongkos kirim Rp. 10.000,- </span>(P. Jawa) per buku <span style="color: #0000ff;"><strong>dan BONUS tandatangan penulis,  dibuku tersebut.</strong></span></p>
<p><span style="font-size: large; color: #0000ff;">Cara Pemesanan</span>: Setor tunai atau transfer ke BCA KCP Proklamasi Depok</p>
<p>No rekening: <strong>6610258041</strong></p>
<p>Atas nama: Noval Youmal F.</p>
<p><span style="font-size: x-large; color: #0000ff;">First Transfer, First Serve</span></p>
<p>Info tentang <a title="Tentang Noval Y. Ramsis" href="http://www.novalramsis.com/about/" target="_blank">Noval Youmal</a> klik <strong><a title="Tentang Noval Y. Ramsis" href="http://www.novalramsis.com/about/" target="_blank">DISINI</a></strong> atau cari di <a href="http://www.google.co.id/">Google</a> dengan keyword: Noval Y. Ramsis</p>
<p>Setoran tunai atau transfer pemesanan buku senilai Rp. 50.000 dengan tambahkan 3 digit angka terakhir no hape anda:  <strong>jadi setor tunai atau transfer pemesanan buku</strong> senilai<strong> Rp. 50.xxx</strong> ,- (xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><span style="font-size: x-large; color: #0000ff;">Jadi ReSeller Buku:</span></strong></p>
<p>Pesan 30 buku (dapat diskon 7,5 % dari harga buku Rp. 40.000,-) <span style="color: #0000ff;"><span style="font-size: large;"><strong>plus bonus</strong></span><strong> (GRATIS)</strong></span> 3 buah buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos. <span style="color: #ff0000;"><strong>BUKAN transfer Rp.1.200.000,- atau transfer Rp.1.188.000.</strong></span> <strong><span style="font-size: large; color: #0000ff;">CUKUP</span></strong> <span style="font-size: large; color: #0000ff;"><strong>dengan mentransfer Rp.1.110.000,- </strong><span style="font-size: small; color: #000000;">(belum termasuk biaya ongkos kirim)</span><strong> dapat 33 buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos.</strong></span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Konfirmasi pembayaran di sms atau email ke Noval Y. Ramsis:</strong></p>
<p>Sms ke nomer hape: <strong>085 6166 4227</strong>  – Email ke: <a href="mailto:pelatihan@buyanur.com">pelatihan@buyanur.com</a> dan cc ke: <a href="mailto:novalramsis@gmail.com">novalramsis@gmail.com</a></p>
<p>Isi konfirmasi: <strong>Nama Pemesan [spasi] Judul Buku [spasi] tgl transfer [spasi] 1.110.xxx </strong>(xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)</p>
<p>&nbsp;</p>
<div id="attachment_2874" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://buyanur.com/wp-content/uploads/2011/01/cover-buku-Bisnis-Sampingan1.jpg"><img class="size-full wp-image-2874" title="cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos" src="http://buyanur.com/wp-content/uploads/2011/01/cover-buku-Bisnis-Sampingan1.jpg" alt="cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos" width="500" height="356" /></a><p class="wp-caption-text">cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos</p></div>
<p>Halaman: xx + 200</p>
<p>Endorsment untuk buku: <strong>1/2 Karyawan, 1/2 Bos</strong></p>
<p><em>Menjadi karyawan sekaligus boss? Kenapa tidak? Pelajari dan praktekkan strategi dan kiatnya di buku ini. Wujudkan impian anda sekarang juga!. – <strong>Badroni Yuzirman, Owner </strong><a href="http://www.manetvision.com/" target="_blank"><strong>www.manetvision.com</strong></a><strong>, Founder Komunitas TDA </strong><a href="http://www.tangandiatas.com/" target="_blank"><strong>www.tangandiatas.com</strong></a></em></p>
<p><em>Dalam pertemuan dan tukar pikiran dengan penulis, sa­­ya mendapat kesan kuat bahwa penulis adalah orang yang berani, semangat dan gigih. Ketiga hal tersebut menurut hemat saya adalah kualifikasi pokok bagi setiap calon pengusaha. Melalui buku ini penulis nampaknya ingin menularkan keberanian, semangat dan kegigihan itu. Inilah alasan utama kenapa buku ini perlu dibaca dan direnungkan oleh mereka yang masih ragu ragu untuk memulai bisnis secara mandiri. Saya percaya, begitu Anda “kerasukan roh” buku ini, Anda akan mengalami transformasi. Selamat “ketularan” dan selamat “menjadi bos”. – <strong>Syahril Bermawan, Mantan Konsultan GTZ (Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit), dan APRACA (Asia Pacific Rural and Agricultural Credit Association) untuk pengembangan usaha kecil dan mikro. Founder </strong><a href="http://www.buyanur.com/" target="_blank"><strong>www.buyanur.com</strong></a></em></p>
<p><em>Petuah dari kiai saya di gontor, ‘jangan puas jadi pegawai, tapi jadilah yang punya pegawai.’ Buku dari saudara noval ini adalah salah satu cara mengamalkan petuah kiai saya tadi. Bacalah dan punyalah pegawai’ – <strong>ahmad fuadi, penulis trilogi negeri5menara, </strong><a href="http://www.negeri5menara.com/" target="_blank"><strong>www.negeri5menara.com</strong></a></em></p>
<p><em>Dari dulu saya ingin sekali jadi boss, tapi selalu ragu, karena belum mengerti betul strateginya. Setelah membaca buku ini, saya merasa yakin, hal itu akan segera terwujud. – <strong>Gol A Gong, Direktur Gong Publishing, pendiri Taman Bacaan </strong><a href="http://www.rumahdunia.net/" target="_blank"><strong>www.rumahdunia.net</strong></a></em></p>
<p><em>WOWWWW ! Ada banyak pertanyaan dibuku ini yg akan MENANTANG untuk melihat DIRI Anda sekarang ini masih ORANG BIASA atau ORANG LUAR BIASA. Lalu didalam buku ini, ada langkah-langkah untuk menjadikan Anda jadi LEBIH dari LUAR BIASA. – <strong>Ali Akbar, follow @PakarSEO. Pendiri </strong><a href="http://www.bismacenter.com/" target="_blank"><strong>www.BISMAcenter.com</strong></a><strong>, Komunitas OPTIMIZer Bisnis Indonesia.</strong></em></p>
<p><em>Saat ini, uang banyak tidak menjamin kesejahteraan hidup, apalagi nggak punya uang. Makanya, jangan hanya bergantung pada satu sumber penghasilan, apalagi sumber yang disebut GAJI. Melaju lah dengan gigi dua, tiga atau empat di jalan raya kehidupan dengan menekuni karir sebagai bos. Baca tuntas buku ini, dan jalani kehidupan bebas hambatan! – <strong>Jay, de terrorist. Headmaster </strong><a href="http://sekolahmonyet.com/" target="_blank"><strong>www.sekolahmonyet.com</strong></a></em></p>
<p><em><strong> </strong>BERBAHAYA!!! Banyak Perusahaan akan Kehilangan Karyawannya karena buku ini. Yup, karena Anda memutuskan untuk menjadi BOSS bagi Bisnis Anda sendiri! – <strong>dr.Andhyka P. Sedyawan, #1 Amazing Life Coach in Asia, Follow Me @TweetHEBAT, </strong><a href="http://www.akuhebat.com/" target="_blank"><strong>www.AkuHebat.com</strong></a></em></p>
<p><em>“Siapapun bisa berbisnis. Asal memiliki keinginan yang kuat dan suka menghadapi tantangan. Yang pasti, berwirausaha harus dimulai dan dilakukan, bukan hanya sekedar keinginan. Buku Supardi Lee ini dapat memotivasi siapapun yg ingin berbisnis, apapun profesi mereka saat ini. – <strong>Guntur Subagja Mahardika, wirausaha, direktur utama GMN Corporation.</strong></em><br />
<br clear="all" /><em> InsyaAllah siapapun yg membaca buku ini akan TERBAKAR &amp; TERBANGKITKAN semangat nya untuk SEGERA menjadi PENGUSAHA..! Dengan menjadi PENGUSAHA anda akan BEBAS FINANSIAL, dan bisa lebih BERMANFAAT untuk lebih banyak Orang. Dapatkan PENCERAHAN dan PANDUAN nya DISINI! – <strong>Fahira Fahmi Idris (@fahiraidris), Nabila Parcel &amp; Florist, Aries Shooting Club, Ketum Saudagar Muda Minangkabau, Ketum Gema Damai</strong>.</em></p>
<p><em>Membaca buku ini sama dengan mempersiapkan diri jadi Boss. Buku ini memperlihatkan betapa mudahnya menjadi Karyawan dan Boss di saat bersamaan, bisa jadi semudah kita nonton TV sambil santap makan. Bisa karena terbiasa. – <strong>Andrie Djarot (@andjrot), Presenter TV, MC, Abang Jakarta 2005.</strong></em></p>
<p><em>Ada banyak kenikmatan yg bisa dirasakan ketika bisnis kita berhasil. Tak melulu soal uang. Lebih tinggi dari itu adalah kebebasan dan kepuasan batin. Menjadi bos untuk diri sendiri, adalah sesuatu yang layak dikejar daan diperjuangkan. Mari belajar dari buku ini. <strong>- Iim Fahima Jachja (@iimfahima), CEO Virtual Consulting, www.virtual.co.id</strong></em></p>
<p><span style="color: #000080;">Kaya adalah kuasa.  Dengan kekayaan anda dapat melakukan banyak hal.  Sebaliknya miskin adalah beban.  Kemiskinan adalah pembatas anda untuk melakukan apa yang anda sukai.  Ali bin Abi Thalib, mengatakan bahwa kemiskinan itu ada di tepi jurang kekafiran (mendustakan Tuhan).</span></p>
<p>Buku ini mengulas 33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja:<br />
1.    <a href="../2011/01/27/2011/10/31/peluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas/" target="_blank">Buat Keputusan Tegas</a> &lt;&lt;== baca sebagian bab 1 disini.</p>
<p>2.    <a title="Buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="../2011/11/16/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/" target="_blank">Takut Gagal? No Way…</a>  &lt;&lt;== baca sebagian bab 2 disini.</p>
<p>3.    <a title="Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?" href="http://buyanur.com/2011/11/16/peluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak/" target="_blank">Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?</a> &lt;&lt;== baca sebagian bab 3 disini.</p>
<p>4.    Yakin 100%, Jangan Setengah-setengah</p>
<p>5.    Fokus pada Keuntungan</p>
<p>6.    Penjual Adalah Raja, bukan Pembeli</p>
<p>7.    Tetapkan Modal Aman Emosional</p>
<p>8.    Cari Peluang-peluang Bisnis</p>
<p>9.    Awas! Banyak Srigala Bisnis</p>
<p>10. Temu Kenali Resikonya</p>
<p>11. Inilah Bisnis Saya</p>
<p>12. Jangan Mudah Tergoda</p>
<p>13. Memahami Kurva Bisnis</p>
<p>14. Mendapatkan Mitra Bisnis Strategis</p>
<p>15. Mencegah Konflik dengan Mitra Bisnis Strategis</p>
<p>16. Mendapatkan Mentor</p>
<p>17. Mendapatkan Lokasi yang Pas</p>
<p>18. Penting!  Menetapkan Target Bisnis</p>
<p>19. Kuasai Teknis Teknologis</p>
<p>20. Titik-titik Kritis dalam Produksi</p>
<p>21. Memilih <em>Supplier</em></p>
<p>22. Memasarkan Bisnis</p>
<p>23. Merek Harus Menjual</p>
<p>24. Promosi Efektif dengan Biaya Murah</p>
<p>25. Mengembangkan Bisnis</p>
<p>26. Menjadi Bos yang Disegani dan Disenangi</p>
<p>27. Menyelesaikan Masalah dengan Karyawan</p>
<p><em>28. </em>Melayani sebagai Kesenangan dan <em>Way of Life</em></p>
<p>29. Menangani Keluhan Pelanggan</p>
<p>30. Membuat Pelanggan jadi Setia</p>
<p>31. Jangan Repot dengan Keuangan</p>
<p>32. Mengatasi Bisnis yang Merugi</p>
<p>33. Menutup dan Mengganti Bisnis</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/16/peluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak/" rel="bookmark" class="crp_title">Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/11/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/" rel="bookmark" class="crp_title">Takut Gagal? No Way&#8230;</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/10/31/peluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas/" rel="bookmark" class="crp_title">Buat Keputusan Tegas</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/02/12/pelatihan-bisnis-sampingan-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">PELATIHAN BISNIS SAMPINGAN &#8211; Depok, 16 April 2011</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/10/03/inspirasi-islamberbagi-cerita-sukses/" rel="bookmark" class="crp_title">Berbagi Cerita Sukses</a></li></ul></div><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fbuyanur.com%2F2011%2F11%2F17%2Fbuku-laris-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah-best-seller%2F&amp;title=Jurus%20Sukses%20Berbisnis%20Kala%20Masih%20Bekerja" id="wpa2a_6"><img src="http://buyanur.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/11/17/buku-laris-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah-best-seller/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/11/16/peluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/11/16/peluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Nov 2011 07:24:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi & Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=2952</guid>
		<description><![CDATA[Waryono, seorang office boy di Jakarta.  Di tengah kesibukannya bekerja, ia juga mengelola beberapa bisnis.  Berbekal modal Rp.500.000,- ia membuka toko kelontong kecil.  Ternyata, bisnisnya berjalan dengan baik.  Ia pun memutar modalnya untuk membuka warung pecel lele.
Dengan ketekunan, semangat pantang menyerah, hemat, senang belajar, Waryono pun berhasil di warung pecel lelenya.  Ia membuka warung pecel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waryono, seorang office boy di Jakarta.  Di tengah kesibukannya bekerja, ia juga mengelola beberapa bisnis.  Berbekal modal Rp.500.000,- ia membuka toko kelontong kecil.  Ternyata, bisnisnya berjalan dengan baik.  Ia pun memutar modalnya untuk membuka warung pecel lele.</p>
<p>Dengan ketekunan, semangat pantang menyerah, hemat, senang belajar, Waryono pun berhasil di warung pecel lelenya.  Ia membuka warung pecel lele yang kedua.  Selain itu, ia pun punya toko tanaman hias, juga sawah dan traktor yang disewakan.</p>
<p>Sekarang, omset semua bisnisnya mencapai Rp. 25 juta per bulan.  Itulah bukti nyata bahwa orang yang bekerja, dapat juga membangun bisnis dan berhasil dari modal yang relatif kecil.  Waryono pun diprofil sebagai “Sosok Minggu Ini” pada acara berita di sebuah stasiun TV swasta nasional.</p>
<p>Lihat video liputan seorang Waryono <a href="http://www.youtube.com/watch?v=zD-YeWio8QQ" target="_blank"><span style="font-size: medium;"><strong>disini</strong></span></a> &#8211;&gt; <a href="http://www.youtube.com/watch?v=zD-YeWio8QQ" target="_blank">http://www.youtube.com/watch?<wbr>v=zD-YeWio8QQ</wbr></a></p>
<p>Lain lagi dengan Pak Sofyan.  Ia manajer di sebuah perusahaan farmasi.  Beberapa tahun sebelum masa pensiunnya tiba, ia telah mulai berbisnis.  Membuka peternakan ayam potong.  Ia meresikokan modal puluhan juta rupiah untuk bisnisnya ini.</p>
<p>Ternyata pilihannya tepat.  Bisnis ayam potongnya berjalan lancar.  Bisnis ini memang telah tersistem.  Ada perusahaan besar yang mensuplay anak ayam, pakan dan menampung hasil panennya.</p>
<p>Meski begitu, bukan berarti bisnisnya tanpa masalah.  Anak kandang yang cenderung “nakal”, tetangga kandang yang merongrong menjadi tantangan di awal bisnisnya.  Selain tentu masalah perawatan ayamnya sendiri.</p>
<p>Sosok Pak Sofyan ini memberi pelajaran penting.  Bisnis bisa dimulai di usia matang.  Usia-usia pensiun.  Dan tetap tidak mengganggu pekerjaan di tempat kerja.</p>
<p>Pelajaran lain adalah tentang modal.  Pak Sofyan ini yakin bisa sukses di bisnisnya.  Maka ia siap keluarkan modal besar.  Keyakinan ini muncul, tentu karena sebuah perhitungan yang matang dan pengetahuan yang cukup tentang bisnis yang akan dibukanya.</p>
<p>Sosok lain adalah Fauzan.  Ia mahasiswa pemenang Wirausaha Muda Mandiri Award di tahun 2010.  Bermula dari niatnya untuk mulai berbisnis saat masih mahasiswa.  Pilihannya jatuh pada budidaya lele sangkuriang.  Khususnya usaha pembenihannya.</p>
<p>Maka, waktu-waktu luang di tengah kesibukan kuliah ia gunakan untuk berbisnis lele ini.  Tiga orang karyawan sekarang membantunya di peternakannya di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan.  Berbagai media massa banyak yang meliput kesuksesan Fauzan.</p>
<p>Nah, itulah bisnis.  Ia bisa kita bangun di tengah kesibukan kita sehari-hari dalam bekerja atau kuliah.  Ada faktor delegasi yang sangat membantu.  Kuliah, tentu tak bisa diwakilkan.  Paling banter, nitip absen.  Itupun akan kena sanksi berat bila ketahuan.  Dan tentu kita rugi sendiri bila kuliahnya hanya nitip absen.  Sudah bayar mahal, ilmunya tak dapat.</p>
<p>tulisan diatas adalah sebagian dari isi Bab 3. Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak? buku:</p>
<p><span style="font-size: x-large; color: #0000ff;"><strong><a title="Buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="../2011/01/27/kaya-raya-dari-bisnis-sampingan-pelatihan-peluang-usaha/" target="_blank"><span style="color: #0000ff;">1/2 Karyawan 1/2 Bos</span></a></strong></span></p>
<p><strong>33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan</strong></p>
<p>(buku yang akan diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)</p>
<p><strong>penulis: Supardi Lee &amp;<a title="Tentang Noval Y. Ramsis" href="http://www.novalramsis.com/about/" target="_blank"> Noval Ramsis</a></strong></p>
<p>Harga buku: Rp. 40.000,-</p>
<p>order buku klik <a title="Pesan Buku" href="http://buyanur.com/2011/11/17/buku-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah/" target="_blank"><strong><span style="font-size: large;">disini</span></strong> </a> &#8211;&gt; <a title="Pesan Buku" href="http://buyanur.com/2011/11/17/buku-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah/" target="_blank">Pesan Buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://buyanur.com/2011/10/31/peluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas/" rel="bookmark" class="crp_title">Buat Keputusan Tegas</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/11/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/" rel="bookmark" class="crp_title">Takut Gagal? No Way&#8230;</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/17/buku-laris-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah-best-seller/" rel="bookmark" class="crp_title">Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/02/12/pelatihan-bisnis-sampingan-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">PELATIHAN BISNIS SAMPINGAN &#8211; Depok, 16 April 2011</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/01/18/pelatihan-peluang-usaha-memulai-bisnis/" rel="bookmark" class="crp_title">MEMULAI USAHA &#038; BISNIS</a></li></ul></div><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fbuyanur.com%2F2011%2F11%2F16%2Fpeluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak%2F&amp;title=Mereka%20Bisa%2C%20Kenapa%20Kita%20Tidak%3F" id="wpa2a_8"><img src="http://buyanur.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/11/16/peluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Takut Gagal? No Way&#8230;</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/11/11/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/11/11/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Nov 2011 01:46:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi & Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=2851</guid>
		<description><![CDATA[artikel ini sebagian isi BAB 2, dari buku:
1/2 Karyawan 1/2 Bos &#60;&#60; klik disamping panah

33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan
(buku baru,  diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)
penulis: Supardi Lee &#38; Noval Ramsis
Harga buku: Rp. 40.000,-
Sudah tersedia di toko buku Gramedia di kota anda. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>artikel ini sebagian isi BAB 2, dari buku:</p>
<p><span style="font-size: x-large;"><strong><a title="Kaya Raya dari Bisnis Sampingan" href="http://buyanur.com/2011/01/27/kaya-raya-dari-bisnis-sampingan-pelatihan-peluang-usaha/" target="_blank">1/2 Karyawan 1/2 Bos</a> </strong><span style="font-size: small;">&lt;&lt; klik disamping panah</span><strong><a title="Buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="http://buyanur.com/2011/01/27/kaya-raya-dari-bisnis-sampingan-pelatihan-peluang-usaha/" target="_blank"><br />
</a></strong></span></p>
<p><strong>33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan</strong></p>
<p><span style="color: #000080;">(buku baru,  diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)</span></p>
<p><strong>penulis: Supardi Lee &amp;<a title="Tentang Noval Y. Ramsis" href="http://www.novalramsis.com/about/" target="_blank"> Noval Ramsis</a></strong></p>
<p>Harga buku: Rp. 40.000,-</p>
<p><span style="color: #0000ff;">Sudah tersedia di toko buku Gramedia di kota anda. Jangan sampai kehabisan!!!</span></p>
<p>atau order <a title="Order Buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="http://buyanur.com/2011/11/17/buku-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah/" target="_blank"><span style="color: #0000ff;"><strong>OnLine disini</strong></span></a> &lt;&lt; klik disamping</p>
<p>Ketakutan adalah anugerah Tuhan untuk menyelamatkan kita dari berbagai macam bahaya.  Ketika berkendaraan, kita takut untuk celaka, maka kita akan berhati-hati.  Kecepatan kendaraan kita atur dengan baik.  Kaca-kaca spion terus diperhatikan dan kita konsentrasi mengemudi.   HP di-silent lebih dulu agar tidak mengganggu konsentrasi.  Kita pun selamat sampai tujuan.  Ketakutan memberikan manfaat besar.</p>
<p>Tapi, bila kita dikendalikan oleh ketakutan, maka kita akan kehilangan berbagai kesempatan untuk mendapat kesuksesan, kenikmatan dan kekayaan yang lebih besar.  Merugi jadinya.</p>
<p>Dalam membangun bisnis, takut gagal ini bisa berdampak negatif atau positif.  Berdampak negatif bila ketakutan ini membuat kita tak jadi melangkah.  Terlalu banyak menghitung-hitung resiko.  Terlalu sering mendengar cerita kegagalan.  Terlalu berhati-hati membuat keputusan dan tindakan.  Dengan begitu, bisnis kita perlahan sekali majunya.</p>
<p>Sebaliknya, takut gagal ini bisa berdampak positif.  Bahkan penting.  Ketakutan yang cukup akan membuat kita berusaha optimal, tidak meremehkan dan serius agar sukses.  Maka, cerita kegagalan diri sendiri dan orang lain adalah pelajaran sangat berharga.  Tidak akan melemahkan, bahkan menambah semangat.</p>
<p>Bila kita dikendalikan ketakutan, itu artinya kita menarik apa yang ditakuti itu.  Jadi bila kita takut gagal, maka kegagalan justru mendekat.  Pernah lewat kuburan dan takut setan?  Wah, kita justru sedang mengundang setan untuk mendatangi kita.</p>
<p>Maka, kendalikan lah ketakutan.  Takut itu wajar-wajar saja koq.  Semua orang mengalaminya.  Semua orang memiliki ketakutannya masing-masing.  Orang tanpa ketakutan, justru adalah orang yang tak normal.  Pernah lihat orang gila di jalanan?  Adakah ketakutan dalam dirinya?</p>
<p>Kita membutuhkan kesadaran atas ketakutan kita sendiri.  Ketika kita sadar, diri kita sedang takut, maka kita memiliki kesempatan untuk mengendalikan ketakutan itu.  Tanpa kesadaran tak ada pengendalian.</p>
<p>Sadar atas apa?  Sadar atas jati diri kita yang sesungguhnya.  Sadar atas kemampuan kita.  Sadar atas kebaikan orang-orang di sekeliling kita.  Sadar atas kekuasaan Tuhan yang tak berbatas.  Dengan begitu, saat gagal datang, kita sadar bahwa ini cara Tuhan untuk mengingatkan dan menguatkan kita.  Kita sadar, mungkin kita belum mengeluarkan yang terbaik dari diri kita.</p>
<p>Dalam bisnis, ada beberapa ketakutan yang harus kita sadari.</p>
<p>Pertama, takut dicemooh.  Ini terjadi bila kita memulai bisnis dengan skala kecil.  Lebih kecil dari citra diri kita yang terlihat oleh orang lain.  Ada teman saya yang mengalaminya.  Ketika selesai kuliah, ia memutuskan untuk berbisnis.  Jualan buku di kios kecil di pinggir jalan.</p>
<p>Keluarganya tidak setuju.  Orang tuanya ingin ia bekerja saja.  Menjadi orang kantoran.  Terlihat keren.  Ketidak setujuan ini segera berubah menjadi cemoohan.  Rupanya sang teman tidak tahan.  Maka ia berhenti berbisnis.</p>
<p>Anda mungkin juga mengalaminya.  Sudah punya pekerjaan yang enak, koq repot-repot membuat bisnis.  Bisnis kecil lagi.  Wah,…pendapat ini bisa menyurutkan langkah anda.  Apalagi bila berasal dari istri/suami, orang tua, teman-teman dan tetangga.</p>
<p>Apa yang harus dilakukan?  Bagaimana solusinya?</p>
<p>Tersenyum dan ucapkan terima kasih atas pendapat mereka.  Jadikan pendapat seperti ini sebagai pemantik tekad anda untuk membuktikan bahwa anda sebenarnya sedang melakukan sesuatu yang besar dan berarti.  Terangkan maksud anda membangun bisnis dengan santun.  Jelaskan manfaat-manfaat apa saja yang anda dapatkan dari bekerja dan membangun bisnis juga.</p>
<p>Bagaimana bila masih dicemooh juga?  Biarkan saja.  Itu hak mereka.  Anda gunakan saja hak anda untuk melakukan sesuatu dengan bebas.  Toh, bisnis anda tidak mendapat modal pula dari mereka.  Akan datang saatnya ketika anda sukses besar dan mendapatkan kelimpahan yang luar biasa.  Bila sudah begini, tak akan ada lagi cemoohan.  Orang sukses yang baik tak dicemooh. Malah dipuji dan didekati.</p>
<p>Kedua, takut bangkrut.  Ini terjadi pada banyak orang.  Tentu dengan intensitas yang berbeda-beda.  Takut bangkrut terjadi karena kita pernah lihat orang yang bangkrut.  Juga karena sumberdaya kita terbatas.  “Modal ini hasil kerja keras saya menabung.  Kalau nanti gagal gimana?  Hasil kerja keras saya sia-sia dong.”</p>
<p>tertarik untuk pesan buku <strong>1/2 Karyawan, 1/2 Bos</strong>?  Silahkan email ke: <a href="mailto:pelatihan@buyanur.com">pelatihan@buyanur.com</a></p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/16/peluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak/" rel="bookmark" class="crp_title">Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/10/31/peluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas/" rel="bookmark" class="crp_title">Buat Keputusan Tegas</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/17/buku-laris-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah-best-seller/" rel="bookmark" class="crp_title">Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/02/12/pelatihan-bisnis-sampingan-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">PELATIHAN BISNIS SAMPINGAN &#8211; Depok, 16 April 2011</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/01/27/kaya-raya-dari-bisnis-sampingan-pelatihan-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">Kaya Raya dari Bisnis Sampingan</a></li></ul></div><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fbuyanur.com%2F2011%2F11%2F11%2Fpeluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way%2F&amp;title=Takut%20Gagal%3F%20No%20Way%26%238230%3B" id="wpa2a_10"><img src="http://buyanur.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/11/11/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buat Keputusan Tegas</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/10/31/peluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/10/31/peluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 04:59:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirasi & Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=2835</guid>
		<description><![CDATA[Sinopsis BAB 1 dari buku:
1/2 Karyawan 1/2 Bos
33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan
(buku yang akan diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)
penulis: Supardi Lee &#38; Noval Ramsis
Harga buku: Rp. 40.000,-
cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos
Keputusan adalah pekerjaan mental yang paling dekat dengan tindakan.  Tak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sinopsis BAB 1 dari buku:</p>
<p><a title="Buku 1/2 Karyawan 1/2 Bos" href="http://buyanur.com/2011/01/27/kaya-raya-dari-bisnis-sampingan-pelatihan-peluang-usaha/" target="_blank"><span style="font-size: x-large; color: #0000ff;"><strong>1/2 Karyawan 1/2 Bos</strong></span></a></p>
<p><strong>33 Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja – Jangan main-main dengan Bisnis Sampingan</strong></p>
<p><span style="color: #000080;">(buku yang akan diedarkan awal Desember 2011 oleh penerbit Tangga Pustaka – grup AgroMedia)</span></p>
<p><strong>penulis: Supardi Lee &amp; <a title="Tentang Noval Y. Ramsis" href="http://novalramsis.com/about" target="_blank">Noval Ramsis</a></strong></p>
<p>Harga buku: Rp. 40.000,-</p>
<div id="attachment_2874" class="wp-caption aligncenter" style="width: 510px"><a href="http://buyanur.com/wp-content/uploads/2011/01/cover-buku-Bisnis-Sampingan1.jpg"><img class="size-full wp-image-2874" title="cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos" src="http://buyanur.com/wp-content/uploads/2011/01/cover-buku-Bisnis-Sampingan1.jpg" alt="cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos" width="500" height="356" /></a><p class="wp-caption-text">cover buku: 1/2 Karyawan 1/2 Bos</p></div>
<p>Keputusan adalah pekerjaan mental yang paling dekat dengan tindakan.  Tak ada tindakan tanpa keputusan.  Seperti apa tindakan kita, ditentukan oleh keputusan yang sebelumnya kita buat.</p>
<p>Sebelum keputusan, ada keinginan.  Keinginan – keputusan – tindakan adalah sebuah jalur dan siklus.  Maka, banyak orang menginginkan sesuatu, tetapi tidak bertindak.  Banyak karyawan yang ingin memiliki bisnis, tapi tak bertindak.  Kenapa?  Karena tidak membuat keputusan!</p>
<p>Inilah langkah awal kita untuk memiliki bisnis.  Buat keputusan tegas.</p>
<p>Sebuah keinginan telah berubah menjadi keputusan bila kita telah melengkapinya dengan faktor waktu.  Saya ingin memiliki bisnis.  Kapan?  Bulan depan!  Nah, itu keputusan.</p>
<p>Waktu saya bekerja, saya memutuskan untuk mulai memiliki bisnis juga.  Maka saya mulai bertindak.  Saya beli dan baca buku-buku bisnis.  Saya baca tabloid tentang berbisnis.  Saya bertanya dan diskusi dengan orang-orang yang telah berbisnis.  Inilah keputusan pertamanya : “Saya memutuskan untuk memiliki bisnis bulan depan.”</p>
<p>Keputusan kedua, berkaitan dengan bisnis apa yang akan saya mulai jalani.  Maka saya mencari bisnis yang paling pas dengan kondisi saya.  Kebetulan, rumah saya ada di kampung.  Di samping rumah, ada lahan yang telah dibuat kolam oleh kakak ipar saya.  Ia telah lebih dulu berbisnis.  Lobster air tawar.</p>
<p>Setelah setahun ia menjalani bisnis lobster, semua lobsternya kena virus dan mati semua.  Ia berhenti berbisnis lobster.  Menyisakan kolam-kolam yang tak lagi dipakai.  Dengan izinnya, saya bisa menggunakan kolam-kolam itu.</p>
<p>Saya memutuskan untuk budidaya lele.  Khususnya lele sangkuriang.  Kenapa lele?  Pertama, saya suka makan pecel lele.  Murah, enak dan bergizi.  Kedua, lele tak membutuhkan air mengalir.  Di ‘air mati’ pun bisa.  Ini pas dengan kondisi lahan saya yang tak dilalui sungai.  Ketiga, saya bertemu dengan Pak Nasrudin.  Beliau ini maestro lele.  Telah bergelut dengan lele bertahun-tahun lamanya.  Cerita beliau tentang lele membuka wawasan saya tentang lele.  Peluang pasarnya yang sangat besar.  Budidayanya yang tidak terlalu repot.  Faktor-faktor pendukung seperti sumber pakan, obat-obatan dan sebagainya pun tersedia.  Inilah keputusan kedua saya : “Saya beternak lele sangkuriang”.</p>
<p>Keputusan ketiga saya buat berkaitan dengan : “Seberapa serius saya dengan bisnis ini?”  Mau coba-coba aja?  Kalau berhasil, baru ditingkatkan skalanya?  Atau benar-benar serius.  Apapun yang terjadi – kegagalan sekalipun – saya akan tetap di bisnis ini sampai benar-benar sukses?</p>
<p>Saya memutuskan untuk memilih yang kedua.  Serius 100%.  Apapun yang terjadi, saya akan terus berbisnis lele.  Tidak akan setengah-setengah.  Full <em>commited.</em>  Berkomitmen penuh.</p>
<p>Ini saya lakukan karena beberapa alasan:</p>
<ol>
<li>Bila kita coba-coba dulu, “Kalau berhasil saya lanjutkan, kalau gagal saya berhenti dan mencari bisnis lain” adalah sebuah pola pikir yang keliru.  Kenapa?  Kita baru belajar berbisnis, tentu belum ahli.  Maka kemungkinan gagalnya juga besar.</li>
<li>Agar sukses, kita butuh waktu minimal untuk belajar, mengenal orang-orang kunci di bisnis itu dan mengembangkan sistem bisnis kita sendiri.</li>
<li>Berganti-ganti bisnis awal hanya membuang sumberdaya percuma.</li>
<li>Bisnis apapun, bahkan yang telah fokus sekalipun dan telah berjalan lama tentu masih mungkin ada masalahnya.  Juga mungkin saja gagal.</li>
<li>Bila kita benar-benar serius, mengambil resiko yang cukup besar, tentu kita akan berusaha optimal. Dan usaha optimal ini lah yang diperlukan untuk membuka bisnis.  Apalagi kita masih tetap bekerja.</li>
</ol>
<p>Nah, bila kita ingin memiliki bisnis dan tetap mempertahankan pekerjaan kita selama ini, maka langkah pertamanya Buat Keputusan Tegas.</p>
<p>Pernah nonton film Men of Honor? Film ini dibintangi Cuba Gooding Jr. dan Robert De Niro.  Film ini berdasar pada kisah nyata Carl Bashier. Carl ini negro.  Ia ingin menjadi penyelam.   Ia memutuskan untuk bergabung dengan angkatan laut Amerika.  Saat itu, tak ada negro yang bisa jadi penyelam di angkatan laut Amerika.  Hanya orang berkulit putih yang boleh.</p>
<p>Berbagai rintangan dan permusuhan harus dihadapi Carl Bashier.  Bahkan sampai membahayakan nyawanya.  Tapi ia tetap bertahan.  Keputusannya telah bulat dan sangat kuat.  Maka berbagai rintangan berhasil ia atasi.  Berbagai permusuhan bisa berubah menjadi dukungan.  Cita-cita Carl Bashier pun tercapai.  Untuk membangun bisnis, saya benar-benar belajar dari kisah nyata Carl Bashier ini.</p>
<div id="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/16/peluang-bisnis-usaha-mereka-bisa-kenapa-kita-tidak/" rel="bookmark" class="crp_title">Mereka Bisa, Kenapa Kita Tidak?</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/11/peluang-usaha-bisnis-takut-gagal-no-way/" rel="bookmark" class="crp_title">Takut Gagal? No Way&#8230;</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/11/17/buku-laris-peluang-usaha-bisnis-jurus-sukses-murah-best-seller/" rel="bookmark" class="crp_title">Jurus Sukses Berbisnis Kala Masih Bekerja</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/02/12/pelatihan-bisnis-sampingan-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">PELATIHAN BISNIS SAMPINGAN &#8211; Depok, 16 April 2011</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/01/27/kaya-raya-dari-bisnis-sampingan-pelatihan-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">Kaya Raya dari Bisnis Sampingan</a></li></ul></div><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fbuyanur.com%2F2011%2F10%2F31%2Fpeluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas%2F&amp;title=Buat%20Keputusan%20Tegas" id="wpa2a_12"><img src="http://buyanur.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/10/31/peluang-usaha-bisnis-buat-keputusan-tegas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Personal Leadership Training &#8211; Depok 25 Februari 2012</title>
		<link>http://buyanur.com/2011/10/28/konsultan-bisnis-personal-leadership-training/</link>
		<comments>http://buyanur.com/2011/10/28/konsultan-bisnis-personal-leadership-training/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 14:23:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>novalramsis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://buyanur.com/?p=2826</guid>
		<description><![CDATA[

Personal Leadership Training
Kita membutuhkan pemimpin.  Orang yang bisa menjadi teladan.  Orang yang bisa menjadi tempat mengadu akan berbagai kegalauan.  Orang yang bisa memberi solusi efektif akan berbagai masalah yang kita hadapi.  Orang yang bisa memberi arah bagi kehidupan kita.  Orang yang bisa menjadi pionir bagi segala kebaikan dan perbaikan.  Orang yang bisa kita ikuti kehebatannya.  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<div>
<p><strong>Personal Leadership Training</strong></p>
<p>Kita membutuhkan pemimpin.  Orang yang bisa menjadi teladan.  Orang yang bisa menjadi tempat mengadu akan berbagai kegalauan.  Orang yang bisa memberi solusi efektif akan berbagai masalah yang kita hadapi.  Orang yang bisa memberi arah bagi kehidupan kita.  Orang yang bisa menjadi pionir bagi segala kebaikan dan perbaikan.  Orang yang bisa kita ikuti kehebatannya.  Orang yang bisa kita andalkan kebijaksanaannya.  Orang yang bahkan bisa berkorban untuk kepentingan kita.  Orang yang T.O.P.B.G.T lah…</p>
<p>Kita yakin dengan adanya sang pemimpin ini, diri kita akan terjaga dalam kebaikan.  Masyarakat akan lebih tertib.  Negara bahkan bisa lebih aman, tenteram dan sejahtera.  Maka kita mencari pemimpin kemana-mana.  Kita harap para pejabat bisa menjadi pemimpin.  Kita menggantungkan solusi permasalahan hidup kita pada para ulama.  Para guru kita andalkan keteladanannya.  Bos-bos kita di tempat kerja kita tuntut kepemimpinannya.</p>
<p>Ini harus dihentikan!</p>
<p>Mencari sosok pemimpin di diri orang lain adalah tindakan sia-sia.  Kita hentikan pencarian itu di luar diri kita.  Kita mulai mencarinya ke dalam diri kita sendiri.  Kita boleh saja kaya atau miskin, pria atau wanita, muda atau tua, ganteng/cantik atau buruk rupa, wong ndeso atau wong kuto, tapi satu hal yang pasti : <strong>Setiap orang adalah pemimpin.</strong>  Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk keluarganya, untuk masyarakatnya, untuk organisasinya, untuk bangsa dan negaranya, bahkan untuk seluruh manusia.  Sesungguhnya, orang yang T.O.P.B.G.T. itu adalah diri kita sendiri.  Mari mulai menyadarinya…</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk itu, kami mengadakan PERSONAL LEADERSHIP TRAINING, pada:</p>
<p>Hari / Tanggal     : Sabtu, 25 Februari 2012</p>
<p>Waktu                :  08.00 – selesai</p>
<p>Tempat              : Buku Kafe Jl. Margonda Raya Depok</p>
<p>Investasi              : Rp. 75.000 per orang</p>
<p>Pendaftaran       : Noval Ramsis 085 6166 4227</p>
<p><strong>Peserta Maksimal 30 orang.</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Training ini akan membuat peserta mulai sadar akan fithrah kepemimpinan dalam dirinya dan bisa memimpin diri sendiri sehingga bisa lebih positif, produktif dan kontributif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Trainer</p>
<p>Supardi Lee</p>
<p>(Penemu Personal Leadeship Model, Petani &amp; Pengusaha Lele Sangkuriang, Narasumber Mutiara Pagi di Sindo Radio Network*)</p>
<p>Materi :</p>
<p><em>1.       </em><em>Personal Change </em></p>
<p><em>2.       </em><em>Personal Existence  </em></p>
<p>3.       <em>Personal Self Image</em></p>
<p><em>4.       </em><em>Personal Vision</em></p>
<p><em>5.       </em><em>Personal Leader Belief </em></p>
<p><em>6.       </em><em>Personal Leader Character</em></p>
<p><em>7.       </em><em>Personal Leader Skill</em></p>
<p><em>8.       </em><em>Personal Leader Habbits</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Investasi pelatihan Rp. 75.000 per peserta. <em>First Transfer, First Serve</em><br />
</strong></p>
<p><strong>(batas akhir transfer,  Kamis 23  Februari 2012  jam 17.00 WIB)<br />
</strong></p>
<p>Maksimal untuk 30 orang peserta.<br />
Setor tunai atau transfer ke BCA KCP Proklamasi Depok</p>
<p>No rekening: 6610258041</p>
<p>Atas nama: Noval Youmal F</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Info tentang <a href="http://studiofotografi.com/about/">Noval Youmal</a> klik <a href="http://studiofotografi.com/about/">DISINI</a> atau cari di <a href="http://www.google.co.id/">Google</a> dengan keyword: Noval Y. Ramsis</p>
<p>Setoran tunai atau transfer investasi senilai Rp. 75.000 dengan tambahkan 3 digit angka terakhir no hape anda:  <strong>jadi setor tunai atau transfer investasi pelatihan</strong> senilai<strong> Rp. 75.xxx</strong> ,- (xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)</p>
<p>Konfirmasi pembayaran di sms atau email ke Noval Y. Ramsis:</p>
<p>no hape: 085 6166 4227  – Email ke: <a href="mailto:pelatihan@buyanur.com">pelatihan@buyanur.com</a> atau <a href="mailto:novalramsis@gmail.com">novalramsis@gmail.com</a></p>
<p>Isi konfirmasi: <strong>Nama Peserta [spasi] Leadership [spasi] tgl transfer [spasi] 75.xxx </strong>(xxx adalah 3 digit angka terakhir no hape anda)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Setelah training satu hari ini, peserta dapat terus bergabung dengan Komunitas kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>*) Gelombang Sindo :</p>
<p>Jabodetabek      :  104,6 FM</p>
<p>Surabaya             :  104,7 FM</p>
<p>Jember                 :  102,9 FM</p>
<p>Semarang            :   89,8  FM</p>
<p>Jogja                      :   97,0  FM</p>
<p>Medan                 :   95,1  FM</p>
<p>Menado               :   95,3  FM</p>
<p>Dumai                   :  100,5 FM</p>
<p>Pontianak            :    95,7 FM</p>
<p>Kendari               :    92,4 FM</p>
<p>Palembang         :   87,6  FM</p>
<p>Madiun               :  106,0 FM</p>
</div>
</div>
<div id="crp_related"><h3>Artikel Terkait:</h3><ul><li><a href="http://buyanur.com/2011/03/26/pelatihan-bisnis-peluang-usaha-oye-optimizing-your-energy/" rel="bookmark" class="crp_title">PELATIHAN OYE (Optimizing Your Energy) &#8211; Depok 2 April 2011</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/01/27/pelatihan-bisnis-sampingan-budidaya-lele-sangkuriang-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">Pelatihan Budidaya (pembesaran) Lele Sangkuriang, Depok &#8211; Minggu 4 Maret 2012</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/02/12/pelatihan-bisnis-sampingan-peluang-usaha/" rel="bookmark" class="crp_title">PELATIHAN BISNIS SAMPINGAN &#8211; Depok, 16 April 2011</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2011/10/03/inspirasi-islamberbagi-cerita-sukses/" rel="bookmark" class="crp_title">Berbagi Cerita Sukses</a></li><li><a href="http://buyanur.com/2010/05/21/pelatihan-excellent-program-for-writing/" rel="bookmark" class="crp_title">PELATIHAN &#8220;EXCELLENT PROGRAM FOR WRITING&#8221;</a></li></ul></div><p><a class="a2a_dd a2a_target addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save#url=http%3A%2F%2Fbuyanur.com%2F2011%2F10%2F28%2Fkonsultan-bisnis-personal-leadership-training%2F&amp;title=Personal%20Leadership%20Training%20%26%238211%3B%20Depok%2025%20Februari%202012" id="wpa2a_14"><img src="http://buyanur.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share"/></a></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://buyanur.com/2011/10/28/konsultan-bisnis-personal-leadership-training/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

